Ulasan Termostat Pintar Google Nest Learning Thermostat: Hemat Energi dengan Pengaturan Otomatis

Posted on

Google Nest Learning Thermostat adalah termostat pintar premium yang dirancang untuk mengatur suhu rumah secara lebih otomatis, adaptif, dan hemat energi. Berbeda dari termostat manual yang hanya mengikuti setelan tetap, perangkat ini mempelajari preferensi suhu, kebiasaan harian, kondisi ruangan, dan status penghuni rumah untuk membantu menyesuaikan pemanasan atau pendinginan dengan lebih cerdas.

Dalam konteks ulasan produk, pertanyaan terpenting bukan sekadar apakah Google Nest Learning Thermostat terlihat modern, tetapi apakah fitur otomatisasi suhu, kontrol jarak jauh, integrasi Google Home, dukungan Matter, dan klaim efisiensi energinya benar-benar sepadan dengan harga. Artikel ini membahasnya secara objektif berdasarkan spesifikasi resmi Google Store, panduan kompatibilitas Google Nest Help, dan konteks efisiensi dari ENERGY STAR. Catatan penting untuk pembaca Indonesia: produk ini terutama ditujukan untuk sistem HVAC rumah berbasis kabel 24V, sehingga tidak otomatis cocok untuk semua AC split rumahan yang umum dipakai di Indonesia.

Pembahasan harga

Pembahasan harga
Pembahasan harga. Image Source: pexels.com

Saat artikel ini ditulis, halaman resmi Google Store untuk Nest Learning Thermostat generasi keempat menampilkan harga promosi US$239,99 dari harga normal US$279,99. Dengan kata lain, harga resmi perangkat berada di kelas premium untuk termostat pintar, bukan aksesori rumah pintar murah. Jika dikonversi secara kasar ke rupiah, patokan globalnya berada di kisaran beberapa juta rupiah sebelum memperhitungkan pajak, ongkos kirim, biaya impor, margin reseller, dan jasa instalasi. Karena nilai tukar serta harga toko dapat berubah, angka paling aman untuk dijadikan acuan adalah harga resmi Google Store dalam dolar AS dan harga aktual dari penjual terpercaya saat pembelian.

Untuk pasar Indonesia, pembahasan harga perlu lebih hati-hati. Google Nest Learning Thermostat bukan barang yang selalu tersedia secara resmi di semua kanal ritel lokal, sehingga pembeli sering menemukannya melalui importir, marketplace, atau toko perangkat rumah pintar. Harga rata-rata di pasaran bisa lebih tinggi daripada konversi langsung dari harga AS karena ada biaya pengiriman internasional, pajak masuk, garansi toko, dan risiko stok terbatas. Jika Anda menemukan harga yang jauh lebih murah dari patokan resmi, periksa generasi produk, kondisi barang, kelengkapan paket, serta apakah itu unit baru, bekas, rekondisi, atau versi lama.

Biaya yang sering terlupakan

Harga perangkat bukan satu-satunya biaya. Nest Learning Thermostat generasi keempat memang dirancang agar bekerja dengan banyak sistem HVAC 24V dan dalam banyak kasus tidak membutuhkan kabel C, tetapi Google tetap menyarankan penggunaan pemeriksa kompatibilitas. Pada kondisi tertentu, terutama sistem yang tidak menyediakan daya memadai, pengguna mungkin perlu Nest Power Connector, kabel C, atau bantuan teknisi. Jika instalasi membutuhkan teknisi HVAC atau teknisi listrik, total biaya kepemilikan bisa bertambah cukup signifikan.

Pembeli juga perlu mempertimbangkan nilai dari paket penjualan. Berdasarkan spesifikasi resmi, unit generasi keempat menyertakan Nest Temperature Sensor generasi kedua, trim plate, steel plate, sekrup pemasangan, label kabel, base, dan layar termostat. Sensor suhu tambahan ini penting karena memungkinkan pemantauan ruangan tertentu, bukan hanya area tempat termostat dipasang. Jika dibandingkan dengan termostat pintar yang menjual sensor ruangan secara terpisah, isi paket ini membantu menjustifikasi harga premiumnya.

Apakah harganya masuk akal?

Nilainya masuk akal bila rumah Anda menggunakan sistem HVAC yang kompatibel, tagihan pemanasan atau pendinginan cukup besar, dan Anda ingin perangkat yang bisa belajar otomatis tanpa terlalu sering mengubah jadwal manual. Sebaliknya, harga terasa mahal bila Anda hanya butuh kontrol suhu dasar, tinggal di rumah dengan satu AC split biasa, atau tidak memiliki sistem HVAC sentral. Untuk pembeli Indonesia, keputusan beli sebaiknya dimulai dari kompatibilitas sistem, bukan dari desain atau diskon.

Spesifikasi

Google Nest Learning Thermostat generasi keempat membawa pendekatan desain yang sangat berbeda dari termostat kotak konvensional. Bentuknya bulat dengan diameter 3,9 inci atau 98 mm, ketebalan 1,1 inci atau 29 mm, dan bobot sekitar 161,8 gram. Pilihan warnanya meliputi Polished Silver, Polished Obsidian, dan Polished Gold. Tampilan ini jelas ditujukan untuk pengguna yang ingin perangkat rumah pintar terlihat seperti bagian dari interior, bukan sekadar panel kontrol teknis di dinding.

Desain dan layar

Layarnya menggunakan panel LCD melingkar berdiameter 2,7 inci dengan resolusi 600 x 600 piksel. Dibandingkan Nest Thermostat yang lebih sederhana, model Learning Thermostat generasi keempat diposisikan Google sebagai varian Nest paling canggih. Halaman perbandingan resmi Google menyebut layar generasi ini lebih besar, beresolusi tinggi, dan mendukung Dynamic Farsight. Dalam penggunaan sehari-hari, konsep ini berguna karena layar dapat menampilkan informasi seperti suhu, waktu, cuaca, kelembapan, atau informasi lingkungan ketika pengguna mendekat.

Baca Juga:  Review Sepeda Statis Peloton Bike+: Kelas Bersepeda Live di Ruang Tamu

Kontrol fisiknya tetap mempertahankan karakter khas Nest: pengguna dapat memutar dial dan menekan untuk memilih. Ini lebih intuitif daripada tombol kecil pada termostat lama, terutama untuk penghuni rumah yang tidak ingin selalu membuka aplikasi. Namun, karena perangkat ini mengandalkan layar dan ekosistem aplikasi, pengalaman terbaik tetap muncul ketika dipadukan dengan Google Home.

Sensor dan konektivitas

Untuk sensor, Nest Learning Thermostat generasi keempat dibekali sensor Soli untuk Motion Sense, sensor suhu, sensor kelembapan, dan sensor cahaya sekitar. Kombinasi sensor ini membantu perangkat memahami konteks ruangan: apakah ada pergerakan, bagaimana kondisi suhu aktual, bagaimana kelembapan, dan bagaimana intensitas cahaya di sekitar perangkat. Sensor semacam ini tidak otomatis membuat semua rumah menjadi hemat energi, tetapi memberikan data yang lebih baik untuk pengaturan otomatis.

Konektivitasnya menggunakan Wi-Fi 802.11n pada frekuensi 2,4 GHz dan 5 GHz. Dukungan dua pita ini penting karena banyak perangkat rumah pintar masih mengandalkan 2,4 GHz untuk jangkauan, sementara 5 GHz bisa membantu di lingkungan jaringan yang lebih padat. Google juga menyebut perangkat ini bekerja dengan Google Home dan Matter, sehingga kontrolnya tidak terkunci hanya pada satu aplikasi selama ekosistem rumah pintar yang digunakan mendukung Matter.

Daya dan kompatibilitas HVAC

Sumber daya Nest Learning Thermostat berasal dari kabel sistem HVAC, dengan baterai lithium isi ulang bawaan sebagai pendukung. Konsumsi dayanya menurut spesifikasi resmi kurang dari 1 kWh per bulan. Google menyatakan perangkat ini bekerja dengan sebagian besar sistem 24V, termasuk gas, listrik, minyak, forced air, heat pump, dan radiant. Perangkat dapat mengontrol beberapa tahap heating dan cooling, heat pump dengan auxiliary atau emergency heat, kipas, humidifier, dehumidifier, serta ventilasi dalam konfigurasi yang didukung.

Bagian kompatibilitas adalah poin paling kritis. Google Nest Help memperingatkan bahwa kabel tegangan tinggi, sistem electric baseboard tertentu, kabel stranded, sistem millivolt, dan beberapa sistem bahan bakar padat tidak kompatibel atau membutuhkan modifikasi profesional. Artinya, pembeli tidak boleh menyamakan termostat ini dengan remote universal AC. Untuk rumah dengan AC split standar tanpa sistem HVAC 24V, Nest Learning Thermostat kemungkinan bukan solusi langsung.

Isi paket dan sertifikasi

Paket penjualan mencakup thermostat display, thermostat base, trim plate, steel plate, sekrup pemasangan, label kabel, dan Nest Temperature Sensor generasi kedua. Perangkat juga tercatat sebagai termostat bersertifikasi ENERGY STAR. Sertifikasi ini penting sebagai konteks bahwa produk memenuhi kriteria efisiensi tertentu, meski besarnya penghematan tetap bergantung pada iklim, ukuran rumah, jenis HVAC, kebiasaan pengguna, tarif listrik atau energi, dan kualitas instalasi.

Performa

Performa
Performa. Image Source: commons.wikimedia.org

Performa utama Google Nest Learning Thermostat ada pada kemampuannya membangun jadwal otomatis. Fitur Smart Schedule mempelajari suhu yang Anda sukai dan kapan Anda biasanya menginginkannya. Alih-alih meminta pengguna membuat jadwal detail sejak awal, perangkat akan menyesuaikan rekomendasi berdasarkan rutinitas. Untuk keluarga dengan pola aktivitas cukup konsisten, fitur ini dapat mengurangi kebutuhan menyetel suhu secara manual setiap pagi, malam, atau saat meninggalkan rumah.

Pengaturan otomatis dan kenyamanan

Dalam penggunaan ideal, termostat ini akan terasa seperti asisten suhu rumah. Ketika Anda berada di rumah, sistem menjaga kenyamanan sesuai preferensi. Ketika rumah kosong, fitur seperti Adaptive Eco membantu mencari suhu yang lebih hemat energi tetapi tetap masuk akal untuk kembali nyaman saat penghuni pulang. Google juga menonjolkan natural heating and cooling, yaitu pendekatan yang mempertimbangkan bagaimana suhu luar dapat membantu memanaskan atau mendinginkan rumah secara alami.

Namun, performa otomatis tidak bisa dinilai secara absolut. Rumah yang jadwal penghuninya acak, sering menerima tamu, atau memiliki ruangan dengan karakter suhu sangat berbeda mungkin perlu penyesuaian manual lebih sering. Di sinilah Nest Temperature Sensor menjadi relevan. Dengan sensor tambahan, pengguna bisa memprioritaskan ruangan tertentu, misalnya kamar tidur pada malam hari atau ruang kerja pada siang hari. Hasilnya bukan sekadar angka suhu di lorong, tetapi kenyamanan yang lebih dekat dengan ruangan yang benar-benar dipakai.

Efisiensi energi dalam praktik

Google mengklaim Nest Learning Thermostat dapat membantu menghemat hingga 31 persen pada tagihan pemanasan dan pendinginan. Klaim ini sebaiknya dibaca sebagai potensi, bukan jaminan. ENERGY STAR juga menjelaskan bahwa termostat pintar dapat membantu menghemat energi melalui kontrol jarak jauh, geofencing, pembelajaran preferensi, dan pembaruan perangkat lunak. Tetapi penghematan nyata sangat dipengaruhi oleh perilaku pengguna. Jika sebelumnya Anda sudah sangat disiplin mengatur suhu secara efisien, penghematan tambahan mungkin tidak dramatis. Jika sebelumnya HVAC sering menyala saat rumah kosong, manfaatnya bisa jauh lebih terasa.

Untuk rumah dengan tagihan pemanasan atau pendinginan tinggi, fitur otomatisasi lebih mudah memberi nilai balik. Untuk rumah kecil atau hunian di iklim yang jarang memakai pemanas atau pendingin sentral, waktu balik modal bisa panjang. Karena itu, evaluasi hemat energi harus dilakukan dengan membandingkan pola tagihan sebelum dan sesudah, bukan hanya percaya pada klaim pemasaran.

Aplikasi, Matter, dan kontrol jarak jauh

Instalasi dan pengaturan generasi keempat membutuhkan aplikasi Google Home. Dari aplikasi, pengguna bisa mengubah suhu, melihat status, mengatur preferensi, dan menerima saran hemat energi. Kontrol jarak jauh sangat berguna ketika Anda lupa menurunkan pendinginan sebelum pergi, ingin menyiapkan suhu sebelum pulang, atau perlu memantau rumah saat bepergian.

Baca Juga:  Review Setrika Uap Philips PerfectCare Elite: Menyetrika Cepat Tanpa Risiko Gosong

Dukungan Matter memperluas peluang integrasi dengan ekosistem rumah pintar lain yang kompatibel. Ini membuat perangkat lebih siap untuk jangka panjang dibanding termostat yang hanya nyaman di satu platform. Meski begitu, pengalaman paling mulus tetap akan dirasakan pengguna yang sudah memakai Google Home, Nest Hub, speaker Google, atau perangkat rumah pintar lain dalam ekosistem Google.

Instalasi dan stabilitas

Dari sisi instalasi, Nest Learning Thermostat ramah untuk pengguna yang sistemnya sudah sesuai. Label kabel dan panduan aplikasi membantu proses pemasangan. Tetapi perangkat ini tetap berhubungan dengan sistem HVAC, sehingga kesalahan kabel dapat menyebabkan sistem tidak berjalan semestinya. Google Nest Help menyarankan mematikan daya sebelum melepas termostat lama dan memeriksa jenis kabel. Jika Anda melihat kabel tebal, label 120V atau 240V, atau tidak yakin dengan konfigurasi sistem, instalasi profesional adalah pilihan lebih aman.

Stabilitas koneksi juga bergantung pada kualitas Wi-Fi. ENERGY STAR mengingatkan bahwa termostat pintar berbasis Wi-Fi perlu berada dalam jangkauan router yang memadai agar tidak sering terputus. Jika termostat dipasang jauh dari router atau di area dinding tebal, gunakan jaringan mesh atau penguat sinyal sebelum menyimpulkan perangkat bermasalah.

Kelebihan

Kelebihan Google Nest Learning Thermostat generasi keempat terlihat paling kuat ketika perangkat dipakai pada rumah yang memang sesuai dengan targetnya: rumah dengan sistem HVAC 24V, kebutuhan kontrol suhu rutin, dan penghuni yang ingin otomatisasi tanpa banyak pengaturan manual.

  • Pengaturan otomatis yang matang: Smart Schedule belajar dari rutinitas dan preferensi suhu, sehingga pengguna tidak harus membuat jadwal rumit dari nol.
  • Potensi hemat energi: Fitur Adaptive Eco, kontrol saat penghuni pergi, saran penghematan, dan pembelajaran suhu dapat membantu mengurangi pemakaian HVAC yang tidak perlu.
  • Desain premium: Bentuk bulat, ring metal, pilihan warna polished, dan layar besar membuatnya terlihat lebih elegan daripada termostat standar.
  • Sensor ruangan disertakan: Nest Temperature Sensor generasi kedua sudah ada di dalam paket, membantu mengelola ruangan yang terlalu panas atau terlalu dingin.
  • Dukungan Google Home dan Matter: Kontrol lewat aplikasi dan integrasi rumah pintar lebih fleksibel, terutama untuk pengguna yang sudah membangun ekosistem smart home.
  • Kompatibilitas HVAC luas: Google menyebut model ini sebagai Nest Learning Thermostat paling kompatibel, dengan dukungan untuk banyak sistem 24V dan beberapa tahap heating atau cooling.
  • Kontrol fisik tetap intuitif: Dial putar dan tekan membuat penyesuaian suhu tetap mudah tanpa harus selalu membuka ponsel.

Nilai tambah untuk rumah besar

Untuk rumah bertingkat atau rumah dengan perbedaan suhu antar ruangan, sensor tambahan menjadi nilai penting. Termostat yang hanya membaca suhu di satu titik sering membuat kamar tertentu terlalu dingin atau terlalu panas. Dengan sensor ruangan, pengguna bisa membuat kontrol suhu terasa lebih personal, terutama pada ruangan yang paling sering dipakai.

Kekurangan

Meski menarik, Google Nest Learning Thermostat bukan produk yang cocok untuk semua orang. Kekurangan utamanya bukan pada kualitas perangkat, melainkan pada harga, kompatibilitas, dan asumsi bahwa semua rumah memiliki sistem HVAC yang sesuai.

  • Harga relatif tinggi: Dengan harga resmi normal US$279,99 dan harga promosi yang tetap berada di atas termostat dasar, perangkat ini masuk kategori premium.
  • Kompatibilitas wajib dicek: Sistem tegangan tinggi, electric baseboard tertentu, millivolt, kabel stranded, atau konfigurasi HVAC khusus dapat bermasalah.
  • Tidak ideal untuk AC split biasa: Banyak rumah Indonesia memakai AC split yang dikendalikan remote inframerah, bukan sistem HVAC 24V berbasis termostat dinding.
  • Instalasi bisa menambah biaya: Walau panduan aplikasi membantu, beberapa rumah tetap membutuhkan teknisi, kabel C, atau Nest Power Connector.
  • Penghematan tidak selalu sama: Manfaat hemat energi bergantung pada pola pemakaian, tarif energi, isolasi rumah, cuaca, dan kebiasaan penghuni.
  • Ketergantungan pada aplikasi dan Wi-Fi: Fitur pintar paling berguna membutuhkan koneksi internet stabil dan akun Google Home.
  • Manfaat berkurang untuk rumah sederhana: Jika kebutuhan Anda hanya menyalakan atau mematikan pendingin sesekali, perangkat ini mungkin terlalu canggih dan terlalu mahal.

Catatan objektif sebelum membeli

Sebelum membeli, foto kabel termostat lama, cek label tegangan, gunakan pemeriksa kompatibilitas resmi Google, dan pastikan toko memberi dukungan purna jual. Untuk pembeli di Indonesia, tanyakan secara spesifik apakah penjual dapat membantu instalasi pada sistem HVAC lokal. Jangan membeli hanya karena desainnya bagus, sebab perangkat ini bukan dekorasi dinding, melainkan pengendali sistem pemanasan dan pendinginan.

Kompetitor

Kompetitor terdekat Google Nest Learning Thermostat datang dari dua arah: lini Nest sendiri dan termostat pintar premium dari merek lain. Di dalam keluarga Google, pilihan yang paling relevan adalah Nest Thermostat yang lebih sederhana. Berdasarkan halaman perbandingan resmi, Nest Thermostat menawarkan fitur hemat energi inti dengan harga lebih ramah, layar mirrored glass, dan pengaturan jadwal terpandu di Google Home. Namun, model ini tidak menawarkan pengalaman Learning Thermostat generasi keempat yang lebih premium, layar Dynamic Farsight, ring metal, serta paket sensor ruangan yang sama.

Baca Juga:  Ulasan Penerjemah Pintar Pocketalk S: Penerjemah Suara Instan untuk Traveling

Dibandingkan Nest Thermostat biasa

Nest Thermostat biasa cocok untuk pengguna yang ingin masuk ke ekosistem Google dengan biaya lebih rendah. Ia masih menawarkan kontrol jarak jauh dan fitur hemat energi dasar, tetapi pendekatannya lebih sederhana. Google Nest Learning Thermostat generasi keempat lebih cocok untuk pengguna yang menginginkan jadwal yang belajar otomatis, desain lebih mewah, tampilan dinding yang lebih informatif, dan kompatibilitas HVAC yang lebih kuat.

Dibandingkan Ecobee Smart Thermostat Premium

Ecobee Smart Thermostat Premium sering menjadi pembanding utama di kelas termostat pintar premium. Secara umum, Ecobee kuat pada sensor ruangan, integrasi smart home, dan fitur pemantauan rumah. Nest Learning Thermostat unggul pada pengalaman belajar otomatis yang sangat khas Nest, desain melingkar premium, dan integrasi Google Home. Pilihan antara keduanya banyak ditentukan oleh ekosistem yang sudah Anda pakai. Jika rumah Anda sudah memakai banyak perangkat Google, Nest terasa lebih natural. Jika Anda membutuhkan pendekatan sensor multi-ruang yang sangat detail, Ecobee layak dibandingkan secara langsung.

Dibandingkan Amazon Smart Thermostat

Amazon Smart Thermostat biasanya diposisikan sebagai pilihan lebih terjangkau. Produk semacam ini cocok untuk pengguna yang ingin fungsi termostat pintar dasar dengan biaya awal lebih rendah. Kelemahannya, pengalaman desain, tampilan, pembelajaran otomatis, dan fitur premium umumnya tidak sekuat Nest Learning Thermostat generasi keempat. Jika fokus Anda adalah harga, alternatif murah masuk akal. Jika fokusnya adalah otomatisasi suhu yang lebih pintar dan tampilan premium, Nest lebih menarik.

Dibandingkan kontrol AC pintar inframerah

Untuk banyak pembaca Indonesia, kompetitor yang lebih realistis justru bukan termostat HVAC, melainkan pengendali AC pintar berbasis inframerah. Perangkat seperti ini meniru remote AC split dan bisa dikendalikan lewat aplikasi. Harganya biasanya jauh lebih murah dan lebih sesuai untuk AC split rumahan. Namun, kontrolnya tidak sama dengan termostat HVAC yang terhubung langsung ke sistem. Nest Learning Thermostat lebih tepat untuk rumah dengan sistem pemanasan dan pendinginan terpusat, sedangkan kontrol AC inframerah lebih praktis untuk kamar dengan unit AC terpisah.

Review dari rajaapk.id

Secara editorial, Google Nest Learning Thermostat generasi keempat adalah salah satu termostat pintar paling menarik untuk pengguna yang benar-benar memiliki sistem HVAC kompatibel. Kekuatan utamanya ada pada kombinasi desain premium, Smart Schedule, sensor ruangan bawaan, kontrol aplikasi, dukungan Matter, dan pendekatan hemat energi yang lebih aktif daripada termostat manual. Produk ini bukan sekadar pengatur suhu, tetapi pusat otomasi iklim rumah.

Namun, rekomendasi belinya harus berimbang. Untuk pengguna di Amerika Serikat atau negara dengan sistem HVAC 24V yang umum, perangkat ini sangat layak dipertimbangkan, terutama jika tagihan pemanasan dan pendinginan cukup besar. Harga resminya memang tinggi, tetapi fitur otomatisasi dan sensor tambahan dapat memberi nilai jangka panjang. Untuk pembeli Indonesia, kelayakannya lebih terbatas. Jika rumah Anda tidak memiliki HVAC sentral atau hanya memakai AC split biasa, Nest Learning Thermostat kemungkinan bukan pilihan paling praktis.

Siapa yang cocok membeli?

  1. Pemilik rumah dengan HVAC 24V kompatibel yang ingin pengaturan suhu otomatis dan kontrol dari aplikasi.
  2. Pengguna ekosistem Google Home yang ingin semua perangkat rumah pintar berada dalam satu aplikasi utama.
  3. Rumah dengan tagihan energi tinggi sehingga fitur hemat energi punya peluang memberi dampak nyata.
  4. Pengguna yang peduli desain interior dan ingin termostat yang terlihat premium di dinding.
  5. Rumah bertingkat atau banyak ruangan yang membutuhkan sensor suhu tambahan untuk kenyamanan lebih merata.

Siapa yang sebaiknya menunda?

  1. Pengguna AC split biasa yang hanya membutuhkan kontrol nyala, mati, dan suhu lewat remote.
  2. Pembeli dengan anggaran ketat karena ada termostat pintar atau kontrol AC pintar yang lebih murah.
  3. Rumah dengan kabel tidak jelas atau sistem tegangan tinggi yang belum diperiksa teknisi.
  4. Pengguna yang tidak ingin bergantung pada Wi-Fi dan aplikasi untuk fitur pintar.

Kesimpulannya, Google Nest Learning Thermostat adalah produk premium yang kuat, tetapi bukan pembelian impulsif. Ia paling tepat untuk rumah yang infrastrukturnya mendukung dan pengguna yang menghargai otomatisasi suhu. Jika kompatibilitas sudah terkonfirmasi, perangkat ini menawarkan pengalaman termostat pintar yang rapi, nyaman, dan berpotensi membantu menghemat energi. Jika kompatibilitas belum jelas, langkah terbaik bukan langsung membeli, melainkan memeriksa sistem HVAC terlebih dahulu. Dalam kategori Review Product, nilai akhirnya tinggi untuk target pengguna yang tepat, tetapi kurang ideal untuk pengguna yang hanya mencari solusi murah untuk AC ruangan biasa.

Referensi resmi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *